oleh

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

PAPUABARATDAYA.SIN.CO.ID – Pada 22 September 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan logo, tema, dan peta jalan atau rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Tema yang dipilih adalah Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Peluncuran itu bukan sekadar tanda dimulainya agenda tahunan. Ia semestinya menjadi pintu masuk untuk membaca kembali posisi santri dalam perjalanan bangsa hari ini ini.

Hari Santri sering membuat kita rajin mengenang. Kita membuka kembali halaman sejarah, menyebut Resolusi Jihad, mengingat para kiai, lalu pulang dengan dada membusung. Tidak ada yang salah dengan mengenang. Masalahnya, kalau berhenti di sana, sejarah hanya menjadi album keluarga yang dipajang rapi, tetapi tidak pernah menambah bab baru lagi bermakna.

Santri tidak cukup hanya mengingat sejarah, apalagi sekadar berguru kepada sejarah. Santri harus berani membuat sejarah. Sejarah bukan kitab yang cukup dibaca berulang-ulang. Ia harus ditulis kembali melalui keberanian mengambil peran, menghadirkan gagasan, menciptakan perubahan, dan meninggalkan kemanfaatan bagi generasi yang datang setelah kita semua, bagi bangsa kita semua bersama.

Tema tahun ini karena itu terasa seperti ajakan untuk bergerak. Menguatkan negeri bukan pekerjaan yang selesai dengan memasang spanduk bertuliskan Indonesia Emas. Negeri tidak menjadi kuat karena spanduk, sebagaimana pesantren tidak menjadi maju hanya karena baliho besar. Keduanya membutuhkan manusia yang bekerja, berilmu, berakhlak, dan bersedia berkhidmah tanpa banyak gaduh.

Pesantren mempunyai modal sejarah yang kuat untuk menjawab panggilan tersebut. Ia bukan sekadar tempat menghafal kitab, melainkan ruang pembentukan manusia. Di sana ilmu bertemu adab, kecerdasan bertemu ketekunan, dan kebebasan berpikir bertemu tanggung jawab. Santri belajar bahwa kepandaian harus mempunyai arah, manfaat, dan keberpihakan kepada kemaslahatan masyarakat luas Indonesia.

Baca Juga  Sopir Ojol Bogor Dipukuli Saat Melaporkan Kehilangan, Ini Keterangan Polisi

Abdurrahman Wahid dalam Menggerakkan Tradisi, (LKiS, 2001) menggambarkan pesantren sebagai tradisi yang hidup dan terus bergerak. Tradisi bukan museum yang melarang pengunjung menyentuh benda koleksi. Tradisi adalah tenaga untuk membaca zaman. Karena itu, menjadi santri berarti menerima warisan sekaligus menerima tanggung jawab untuk mengembangkan warisan tersebut agar tetap relevan. kembali.

Dari Nyantri Menuju Ruang Perubahan

Nurcholish Madjid dalam Bilik-Bilik Pesantren, (Paramadina, 1997) menunjukkan kekayaan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan kebudayaan. Kekayaan itu tidak boleh membuat santri nyaman menjadi penonton. Kitab kuning harus melahirkan keberanian berpikir. Sanad harus melahirkan tanggung jawab. Dan ilmu harus bergerak dari ruang pengajian menuju ruang kehidupan masyarakat yang nyata.

Santri masa kini menghadapi dunia yang jauh lebih bising. Algoritma, kecerdasan artifisial, ekonomi digital, perubahan iklim, dan media sosial datang bersamaan. Santri tidak perlu memilih antara kitab kuning dan teknologi. Kitab memberi kedalaman, teknologi memberi kecepatan. Tugas santri memastikan kecepatan tidak mengalahkan ketelitian, dan teknologi tidak menggantikan kebijaksanaan manusia bersama.

Di ruang digital, godaan paling sederhana adalah ingin viral sebelum benar. Tradisi pesantren justru mengajarkan tabayyun, talaqqi, dan penghormatan kepada sumber ilmu. Santri harus cepat belajar, tetapi tidak tergesa menyimpulkan. Jangan sampai unggahan tiga puluh detik mengalahkan kajian puluhan tahun. Itu bukan kemajuan, melainkan kemalasan yang diberi internet.

Menguatkan negeri juga berarti memperkuat masyarakat. Santri perlu turun dari mimbar menuju ruang pemberdayaan. Usaha pesantren, koperasi, pertanian, ekonomi kreatif, pendidikan masyarakat, dan inovasi sosial harus menjadi bagian dari khidmah. Kalau santri hanya pandai membuat proposal tetapi gagap membuat perubahan, jangan-jangan yang tumbuh adalah pemberkasan, bukan pemberdayaan masyarakat secara nyata.

Baca Juga  Wakil Ketua MPR Minta Pemerintah Evaluasi Sistem Zonasi PPDB Seperti Ujian Nasional

Gus Dur dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, (The Wahid Institute, 2006) menempatkan agama dalam hubungan erat dengan kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren bukan pulau yang terapung sendirian. Ia tumbuh bersama masyarakat. Karena itu keberhasilan pesantren tidak cukup diukur dari banyaknya santri, tetapi dari luasnya manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar luas.

Rangkaian Hari Santri 2026 memberi ruang untuk gagasan semacam itu. Ada Surat Santri untuk Presiden, Santri Vision, Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren, Mu’tamad Santri, Festival Sarung dan Peci, Expo Kemandirian Pesantren, Upacara Bendera, dan Malam Bhakti Santri untuk Negeri. Agenda tersebut menarik jika dipahami sebagai ruang partisipasi, bukan sekadar kalender acara yang ramai bersama.

Surat Santri untuk Presiden, misalnya, membuka ruang bagi santri menyampaikan gagasan tentang pendidikan, lingkungan, dan kesejahteraan rakyat. Ini penting karena santri jangan hanya menjadi objek kebijakan. Santri perlu belajar menjadi subjek yang menyampaikan gagasan, membaca persoalan, menawarkan solusi, dan ikut menentukan masa depan. Dari sinilah sejarah baru dapat dimulai bersama.

Menguatkan Negeri, Menjemput Indonesia Emas

Begitu pula Expo Kemandirian Pesantren memberi pesan bahwa pesantren bukan hanya tempat orang pandai menghafal Al-Qur’an. Pesantren juga dapat melahirkan produk, usaha, inovasi, dan lapangan pengabdian. Negara mencatat ribuan pesantren yang memperoleh dukungan inkubasi dan berkembang menjadi badan usaha pesantren. Angka itu penting, tetapi manfaat ekonominya jauh lebih penting lagi.

Baca Juga  Diduga Pakai Minyak Tanah Oplosan, Warga Benteng Alami Luka Bakar Sekujur Tubuh

Menuju Indonesia Emas, santri perlu memperluas makna khidmah. Khidmah bukan hanya membantu kiai, membersihkan halaman pesantren, atau menyiapkan pengajian. Semua itu mulia. Namun pengabdian juga berarti menciptakan lapangan kerja, mengembangkan ilmu, merawat lingkungan, membangun teknologi, memperkuat masyarakat, dan menghadirkan solusi atas persoalan bangsa yang benar-benar dirasakan warga sehari-hari bersama.

Merawat bumi juga bagian dari menguatkan negeri. Pesantren dapat mengembangkan ekoteologi melalui pengelolaan air, sampah, energi, pertanian, dan penghijauan. Nilai menjaga alam tidak perlu diperlakukan sebagai gagasan impor. Amanah, keseimbangan, kebersihan, dan kemaslahatan telah lama hidup dalam khazanah keislaman. Tinggal bagaimana santri menjadikannya gerakan nyata dan berkelanjutan bersama masyarakat luas.

Hari Santri akhirnya harus menjadi cermin sekaligus kompas. Cermin untuk melihat jasa generasi terdahulu, kompas untuk menentukan arah generasi sekarang. Kalau kita hanya mengenang para pendahulu, kita akan menjadi pengagum sejarah. Kalau kita belajar dari mereka lalu bekerja melampaui mereka, kita mempunyai peluang menulis sejarah baru bagi negeri yang baru.

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas bukan slogan yang selesai dicetak di spanduk. Ia adalah panggilan untuk membuat sejarah melalui ilmu, akhlak, inovasi, kemandirian, dakwah, pemberdayaan, dan pengabdian. Santri harus berani keluar dari halaman sejarah untuk menulis halaman berikutnya. Sebab Indonesia Emas membutuhkan santri yang membuat sejarah bagi bangsa kini.(***)

 

News Feed