oleh

Penasihat DWP Kemenag: Perempuan Harus Jadi Penggerak Perubahan yang Inovatif, Adaptif, dan Berdampak

PAPUABARATDAYA.SIN.CO.ID – Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Halimatul Udhmah Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa perempuan tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan organisasi. Perempuan juga harus hadir sebagai penggerak perubahan.

Hal tersebut disampaikan Helmi Halimatul Udhmah dalam Pembinaan DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Bandung. Acara ini mengangkat tema “Transformasi Peran DWP: Mengukuhkan Kepemimpinan Perempuan yang Inovatif, Adaptif, dan Berdampak”.

Hadir, Ketua DWP Kemenag Sinarliati Kamaruddin Amin, Ketua DWP UIN Bandung Enung Supartini Rosihon, Rektor UIN Bandung Rosihon Anwar beserta jajaran pimpinan universitas, serta seluruh pengurus dan anggota DWP UIN Bandung.

Helmi Halimatul Udhmah menekankan pentingnya menghayati tiga kata kunci: inovatif, adaptif, dan berdampak. Menurutnya, inovasi dapat dimulai dari gagasan kecil yang diwujudkan secara kolaboratif.

“Jangan takut menyampaikan gagasan. Kalau ibu mempunyai ide, sampaikan kepada ketua, kepada pengurus. Bisa jadi dari satu gagasan sederhana lahir sesuatu yang kemudian dilakukan bersama oleh DWP,” tegas Helmi, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga  Yanto Khomlay Eluay: Rakyat Papua Adalah Saudara Kandung dengan Saudara Lain di Republik Indonesia

Ia menambahkan, sikap adaptif di era digital harus diimbangi dengan filter nilai agama dan moral, terutama dalam mendampingi keluarga. “Perempuan pemimpin harus mampu membaca perubahan. Kita berada di era digital, tetapi bukan berarti semua perubahan harus diikuti. Kita harus mampu memilih perubahan yang baik tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi pegangan,” jelasnya.

“Jangan sampai anak-anak kita lebih cepat memahami dunia digital daripada orang tuanya. Kita harus hadir untuk memahami, mendampingi, dan mengarahkan,” lanjut Helmi.

Terkait prinsip berdampak, ia mendorong agar setiap program DWP diukur dari asas manfaatnya dan memiliki keberlanjutan. “Pekerjaan yang dianggap kecil, tetapi dampaknya sangat luas. Inilah yang kita maksud dengan berdampak. Tidak harus sesuatu yang besar, tetapi bagaimana apa yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat,” tuturnya.

Helmi juga mengingatkan pentingnya kolaborasi potensi anggota—seperti keterampilan memasak, menjahit, hingga mengelola usaha—agar tidak berjalan sendiri-sendiri. “Kalau ibu-ibu punya kemampuan yang berbeda-beda, jangan berjalan sendiri-sendiri. Ada yang pandai memasak, ada yang menjahit, ada yang memiliki kemampuan lain. Kolaborasikan sehingga menjadi kekuatan bersama,” pangkasnya sembari berpesan agar DWP membangun program yang berkelanjutan, “Kita ingin meninggalkan jejak, bukan sekadar menjalankan kegiatan. Apa yang kita bangun hari ini harus bisa dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya dan tetap memberikan manfaat.”

Baca Juga  Prof. Tjipta Lesmana: Effendy Simbolon Ngomong Apa Lagi?

Senada dengan hal tersebut, Ketua DWP Kemenag RI, Ny. Sinarliati Kamaruddin Amin, mengapresiasi fondasi program ekonomi dan sosial DWP UIN Bandung, seperti unit usaha Djatimart dan program Jumat Berkah. “DWP UIN Bandung sudah mempunyai usaha. Tinggal dilanjutkan dan dikembangkan dengan inovasi-inovasi yang lebih menarik. Saya berharap DWP UIN Bandung dapat terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan anggota serta masyarakat,” kata Sinarliati.

Baca Juga  Tokoh Adat dan Agama dalam Penanganan Covid-19 Diapresiasi

Sementara itu, Ketua DWP UIN Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan program pemberdayaan dan kemandirian anggota. “Program-program yang sudah berjalan ini tentu akan terus kami kembangkan. Kami berharap dapat melahirkan program-program baru sesuai arahan dan kebutuhan anggota,” ujarnya.

Dukungan penuh juga disampaikan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar. Menurutnya, potensi besar DWP perlu disinergikan dengan unit kerja kampus agar selaras dengan visi institusi. “DWP memiliki modal sosial yang luar biasa. Potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi kekuatan bersama sehingga keberadaan DWP tidak hanya dirasakan di lingkungan internal, tetapi juga dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat,” ungkap Rosihon.

“Yang sudah baik tinggal dikembangkan. Bagaimana program-program yang ada dapat menjadi lebih kuat, lebih produktif, dan memberikan manfaat yang lebih luas sesuai dengan visi kampus rahmatan lil alamin atau berdampak bahasanya Kemenag,” pungkasnya.(****)

 

News Feed